Pages

Senin, 04 Februari 2013

Toraja, Tanah Surgawi








CTN -- Memasuki Tana Toraja, anda disambut pamandangan alam yang penuh dengan keagungan. Anda akan menyaksikan batu-batu grafit dan batuan lainnya, serta birunya pegunungan di kejauhan. Pengembala menuntun kerbau mereka, kontras dengan padang rumput yang hijau subur, limpahan makanan di tanah tropis yang indah. Ini adalah Tana Toraja, salah satu tempat wisata terbaik di Dunia.

Mitos
Menurut mitos dan legenda, nenek moyang orang Toraja berasal dari surga. Mitos ini telah menjadi legenda, yang diceritakan dari generasi ke generasi. Hingga kini orang-orang Toraja terus mengatakan, nenek moyang pertama mereka menggunakan "tangga untuk turun dari surga", di mana tangga ini berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Satu-SatuNya Tuhan).

Nama Toraja diberikan oleh suku Bugis Sidendreng dan orang-orang Luwu. Orang Sidendreng memberi nama penduduk daerah ini "To Riaja" ( "orang-orang pertama yang mendiami bagian atas negara atau daerah pegunungan"). Sementara itu, orang-orang Luwu menyebutnya "To Riajang" ( "Orang-orang yang menghuni di bagian barat"). Versi lain adalah kata 'Toraya' diambil dari kata To (Tau = orang), dan Raya (diciptakan dari kata Maraya = besar). Gabungan dua kata ini berarti "orang-orang hebat", atau "manusia mulia". Akhirnya, istilah berubah menjadi Toraja. Kata "Tana" berarti daerah. Penduduk dan wilayah Toraja pun akhirnya dikenal dengan Tana Toraja. (Tanah Toraja kini terbagi dalam dua wilayah Kabupaten, Tana Toraja denga ibukota Makale dan Toraja Utara dengan ibukota Rantepao)





Tanah Toraja adalah daerah tujuan wisata yang menarik, dan dikenal dengan banyak budayanya. Kabupaten ini, terletak sekitar 350 km di utara Makassar, yang dikenal dengan gaya rumah tradisional. Rumah tradisional disebut "Tongkonan". Atapnya terbuat dari daun alang-alang dan bisa bertahan sekitar 50 tahun sebelum perlu diganti. Tongkonan ini juga memiliki strata sesuai dengan hierarki kebangsawanan masyarakat, yang dikategorikan sebagai emas, perunggu, besi dan kuningan. Daya tarik lain di Tanah Toraja adalah rambu solo', upacara pemakaman tradisional yang pantas diperhatikan terutama karena kuburan anak-anak yang dalam pohon hidup. Anak-anak dikuburkan di batang pohon Tarra di Kampung Kambira, Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao. Kuburan ini diperuntukkan untuk anak-anak usia 0-7 tahun. Penguburan anak-anak ini sudah dilakukan puluhan tahun lalu. Namun, pohon-pohon di mana anak-anak dikuburkan masih tumbuh dan dikunjungi oleh banyak wisatawan. Buah pohon Tarra mirip dengan sukun dan dikonsumsi oleh penduduk setempat, terutama untuk bahan sup sayuran.

Pohon-pohon ini memiliki rata-rata 3,5 meter dengan diameter batang yang masih menyimpan puluhan jazat anak-anak. Sebelum mayat diletakkan dalam batang pohon, batang pohon itu dilubangi dan lubang ditutupi dengan serat pohon enau berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jazat anak menjadi satu dengan pohon. Penyatuan ini pohon dan anak tetap memiliki kekuatan yang menarik bagi pengunjung, dan masyarakat Tanah Toraja tetap menganggap tempat ini suci, sama nilainya dengan anak-anak yang terkandung dalam pepohonan. Penempatan mayat anak-anak dalam batang pohon juga disesuaikan dengan strata sosial mereka. Semakin tinggi strata sosial keluarga, semakin tinggi tempat pemakaman di batang pohon Tarra tersebut. Bahkan arah mayat anak ketika ditempatkan di pohon didasarkan pada arah rumah keluarga. Jika rumah ini terletak di bagian barat pohon, tubuh anak akan diposisikan di bagian barat pohon.





Selain itu, pengunjung juga akan melihat upacara-upacara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atau rambu tuka', sebagai kegiatan tetap setiap tahun. Pengunjung dapat juga melihat situs lain yang menarik misalnya lokasi penguburan serupa dengan makam lebar tiga meter dan tinggi sepuluh meter.

Penerbangan domestik dengan pesawat kecil dari 8 kapasitas penumpang dapat digunakan untuk perjalanan dari Bandara Hasanuddin Makassar ke Tanah Toraja seminggu sekali, dan penerbangan memakan waktu 45 menit. Perjalanan melalui darat memakan waktu 7 jam.

Perjalanan dari Makassar ke Toraja menyusur jalur pantai sepanjang 130 km, lantas naik ke pegunungan. Setelah memasuki Tana Toraja, panorama alam yang tampak penuh dengan kemegahan. Anda akan melihat batu grafit dan batuan lainnya serta birunya barisan pegunungan biru di kejauhan. Setelah melewati pasar di desa Mebali, Anda akan melihat masyarakat lokal menggiring kerbau, kontras padang rumput hijau subur, serta ladang-ladang berlimpah makanan di tanah tropis yang keindahannya tiada tara ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar