Pages

Sabtu, 06 April 2013

Self - Knowledge






Pernahkah anda bertanya "siapa saya?". Bukankah pertanyaan ini sering kita katakan pada diri kita sendiri. Lalu apakah ini berarti kita sedang kebingungan dengan identitas diri kita. Sejauh apa kita mengenal diri? Jika diberikan sebuah pertanyaan siapa anda? Berapa kalimat yang bisa anda berikan untuk menjelaskan "siapa saya?". Kita sering berkata saya adalah Jaine, lahir di Jakarta dan telah menyelesaikan senior high school di Sekolah Dian harapan. Apakah sekedar itu kita mengenal diri kita yang hanya masih mencakup tempat tinggal, hobi, kebiasaan buruk dan baik, cita-cita, warna kesukaan, makanan kesukaan, buku kesukaan.


Mengenal diri (self-knowledge) adalah suatu kemampuan di mana kita mampu mengerti dengan jelas siapa diri kita mencakup bagaimana pola perasaan dan pikiran, temperamen, kebiasaan, nilai-nilai hidup, kelebihan atau bakat, minat, kekurangan diri, dan sebagainya. Self-knowledge inilah yang menjadi dasar bagi kita dalam mengarahkan hidup kita. Self-knowledge yang baik menolong kita menjadi pribadi yang matang (mature) yang tidak cepat tergoyahkan oleh suatu masalah hidup dan pengaruh-pengaruh buruk. Mereka yang memiliki self-knowledge yang baik akan lebih mudah dan terarah dalam menentukan karir pekerjaan dan pasangan hidup.


Usia remaja adalah usia yang paling sering mempertanyakan "siapa saya", dan seharusnya pakar psikologi seorang tokoh perkembangan sosio-emosional menyatakan usia remaja sudah seharusnya menemukan jawaban dari siapa dirinya. Ketika mereka gagal ataupun keliru mendapat jawaban tentang siapa dirinya, maka di masa dewasanya mereka akan menjadi pribadi yang tidak dewasa, kebingungan dalam memilih karir, mengalami masalah dalam hubungan khususnya hubungan dengan kekasih atau isteri atau suami dan anak-anaknya, dan kekacauan dalam hidupnya. Pada nyatanya proses mengenal diri adalah sebuah proses sepanjang hidup (Life span) manusia. Tetapi pertanyaannya apakah kita bisa mengenal diri jika kita belum mampu menemukan jawaban dari pertanyaan "siapa saya".


Beberapa point yang dapat diterapkan dalam proses mengenal diri (self-knowledge):


1. Mengenal Allah (Knowing of God)


Pertama kita harus menyadari dan mengakui bahwa we are created. Kita bukanlah produk dari evolusi. Jika kita diciptakan berarti ada sang pencita. Kita semua mengetahui hal tersebut, lalu apa yang menjadi kaitannya dengan diri kita jika kita mengetahui dan mempercayai Allah sang pencipta?. Pena hanya mengerti apa manfaatnya sebagai pena jika dia mengenal sang pembuat pena dan akhirnya pena itu menyadari bahwa dirinya diciptakan sebagai alat tulis. Apakah pena tersebut bisa digunakan secara salah dan tidak lagi pada manfaat awalnya? Tentu bisa. Ini hanyalah sebuah ilustri sederhana mengenai makna dari suatu hubungan antara create (sang Pencipta) dan Created (yang diciptakan). Kita dapat menggunakan diri kita secara salah atau tidak sesuai tujuan awalnya jika kita tidak mengenal sang pencipta.


Seringkali kita merasa tidak berguna (useless), tdak berharga (worthless), tidak cantik, gagal.Negative feeling ini akhirnya menjadi sebuah label yang ada menempel. Ini berarti kita mengenal diri kita sebagai pribadi yang useless, tidak menarik, worthless. Jika kita mengerti siapa Allah dan dengan Tujuan apa kita diciptakan kita akan memiliki dasar pengenalan diri yang baik mengenai "siapa saya". Kita adalah image of God, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Pengetahuan ini seharusnya menjadi dasar dari pengenalan diri kita. Jika kita mengerti bahwa saya adalah gambaran dari Allah maka saya tidak lagi menyesali segala kekurangan diri dan melihat segala bakat yang saya miliki adalah sebuah anugrah yang harus digunakan bagi kemuliaan Allah. Mengenal Allah adalah Mengerti dan menghayati kehidupan kekristenan kita. Menghayati akan pengorbanan Yesus di kayu salib. Dengan kita mengenal siapa Allah maka kita akan mengenal diri kita.


2. Psikotes


Ada beberapa jenis psikotes yang bisa digunakan untuk mengetahui bakat dan minat, temperamen, tingkat kecerdasan dan sebagainya. Tes-tes tersebut sangat baik untuk menolong kita mengenal diri. Misalnya beberapa psikotes untuk mengetahui kepribadian kita adalah MBTI (Myer Briggs Type Indicator), MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventories), 16 PF (Sixteen Personality Factor Questionnaire), EPPS (Edward Personal Preference Schedule) dan TAT (Thematic Apperception Test).


3. Konseling


Pada umumnya budaya kita tidak begitu tertarik dengan kata konseling. Konseling hanyalah bagi orang-orang yang bermasalah, dan kita merasa bukan bagian dari orang yang bermasalah. Tapi tunggu dulu, setiap orang pasti memiliki masalah. Masalah tidak perlu dicari, masalah itu pasti sudah ada dalam diri kita masing-masing Cuma kita tidak menyadarinya. Konseling adalah suatu proses di mana kita sebagai konselee dibukakan kesadaran dirinya (Self-awareness) mengenai siapa diri kita dan masalah apa yang terjadi sebenarnya. Konselor tidak sekedar menasehati anda dalam sesi konseling. Konseling bukan mengarah kepada advice giving tetapi membantu kliennya membukakan siapa dirinya yang tidak pernah disadari oleh klien. Jika anda memiliki beberapa kesempatan untuk konseling, ambillah waktu itu untuk berbicara dengan konselor.


4. Make Friends


Menjalin persahabatan adalah seperti bercermin. Teman-teman sepergaulan adalah mirror bagi kita untuk menunjukkan "siapa saya". Terkadang mereka akan membantu kita melihat betapa egoisnya diri kita, atau betapa cantiknya kita, betapa pintarnya kita, betapa hebatnya kita dalam bidang olah raga. Pergaulan yang salah seperti cermin yang akan membuat kita keliru melihat diri. Pergaulan yang sehat seperti cermin yang jujur dan apa adanya membuat kita melihat siapa diri kita sehingga kita tidak keliru dalam mengenal diri.

5. Berorganisasi


Jangan menarik diri dari setiap kegiatan-kegiatan yang diadakan di sekolah ataupun kampus. Begitu banyak kegiatan dan organisasi diadakan sekolah atau kampus yang sangat baik bagi perkembangan pribadi maupun pengenalan diri. Beberapa kegiatan misalnya, ekskul tari tradisional, ekskul footsal, OSIS, Sipala, Mading, Renang, Karya Tulis, Debat, Bakti sosial, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang bersifat positif lainnya. Turutlah aktif dalam berbagai kegiatan tersebut dibandingkan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang tidak membangun diri, misalnya bergosip berjam-jam, chatting dengan teman lawan jenis yang tidak dikenal, facebook-an berjam-jam, dugem, jalan-jalan tanpa tujuan, nongrong-nongrong di mall.


Aktif dalam berbagai kegiatan yang positif akan menjadi salah satu wadah untuk mengeksplor diri, misalnya kita akan baru menyadari ternyata saya tidak berbakat dalam bidang administrasi setelah menjadi panitia registrasi tetapi kemungkinan berbakat dalam bidang sosial karena saya lebih maksimal dan tertarik menjadi panitia acara ataupun humas.


5. Refleksi Diri


Gadget, entah iPad, iPhone, Blackberry, laptop mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Ini termasuk menjauhkan kita dan diri kita (self). Itulah sebabnya generasi sekarang lebih banyak mengalami kekosongan batin (empty self) Tidak ada yang salah dengan Gadget. Tetapi kita membiarkan Gadget menarik perhatian dan waktu kita melebihi siapapun. Itulah sebabnya beberapa konselor menyatakan bahwa generasi ini kehilangan kedalaman maksudnya mereka tidak lagi memiliki waktu menghayati hidup mereka, berefleksi dari setiap kejadian dan masalah hidup mereka. Semua hal telah tergantikan dengan gadget. Tidak salah jika Kita lebih mengerti apa penyebab kerusakan gadget milik kita dan peduli pada semua fitur baru yang ada ketimbang mengenal siapa diri dan teman-teman kita. Beberapa orang mungkin tidak terlalu minat dengan gadget, tetapi facebookan berjam-jam, bergosip berjam-jam, ikut-ikutan teman tanpa tujuan demi eksistensi diri adalah hal-hal lain yang menghambat kita untuk berefleksi.


Berefleksi dapat dilakukan dengan meluangkan waktu sendiri sekitar 10-20 menit untuk merenung ataupun self-talk. Terutama saat sedang memiliki masalah pribadi. Bagi yang suka menulis, refleksi diri dapat dilakukan dengan menuangkan segala perasaan bahagia, kecewa, kemarahan, ketakutan, keraguan dalam sebuah kertas. Tidak hanya perasaan, tetapi pemikiran-pemikiran kita mencakup apa yang menjadi target hidup kita, impian dan harapan masa depan, dan sebagainya. Refleksi diri adalah kesempatan untuk menemukan motivasi dari setiap perilaku yang kita lakukan, hal-hal dalam diri yang menjadi kelemahan untuk diakui, menemukan cara mengembangkan bakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar